
Di era digital saat ini, kebiasaan mengonsumsi informasi telah berubah secara drastis. Salah satu fenomena yang semakin sering terjadi adalah doomscrolling, yaitu perilaku terus-menerus menggulir layar untuk membaca berita atau konten negatif tanpa henti, terutama di media sosial atau portal berita online. Meski sekilas terlihat sebagai upaya untuk tetap “update” dengan kondisi dunia, kebiasaan ini ternyata memiliki dampak psikologis yang signifikan, termasuk terhadap kemampuan empati seseorang.
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling merujuk pada kecenderungan seseorang untuk terus mencari dan membaca informasi buruk, seperti berita tentang bencana, konflik, krisis ekonomi, atau tragedi kemanusiaan. Aktivitas ini biasanya dilakukan secara kompulsif dan tanpa disadari, bahkan ketika informasi tersebut menimbulkan kecemasan, stres, atau perasaan tidak berdaya.
Algoritma media sosial yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna turut memperparah kebiasaan ini dengan menampilkan konten yang bersifat emosional atau sensasional secara berulang. Akibatnya, individu bisa terjebak dalam siklus paparan informasi negatif yang berkepanjangan.
Empati: Kemampuan yang Tergerus

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi orang lain. Dalam konteks sosial, empati memainkan peran penting dalam membangun hubungan interpersonal, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Namun, paparan berlebihan terhadap konten negatif melalui doomscrolling dapat menyebabkan apa yang disebut sebagai emotional numbing atau mati rasa emosional.
Ketika seseorang terus-menerus disuguhi berita tentang penderitaan, otak akan berusaha melindungi diri dengan mengurangi respons emosional terhadap stimulus tersebut. Ini merupakan mekanisme pertahanan psikologis yang dikenal sebagai desensitisasi. Dalam jangka panjang, desensitisasi dapat menurunkan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain di dunia nyata.
Compassion Fatigue dan Overload Informasi
Fenomena lain yang berkaitan erat dengan doomscrolling adalah compassion fatigue. Istilah ini awalnya digunakan untuk menggambarkan kelelahan emosional yang dialami oleh tenaga kesehatan akibat paparan terus-menerus terhadap trauma pasien. Namun, dalam konteks digital, masyarakat umum juga bisa mengalaminya akibat konsumsi konten negatif secara masif.
Ketika individu mengalami overload informasi tentang tragedi atau krisis global, mereka dapat merasa kewalahan secara emosional. Alih-alih meningkatkan kepedulian, paparan berlebihan ini justru dapat memicu sikap apatis, sinisme, atau bahkan penarikan diri dari isu-isu sosial.
Ilusi Kepedulian di Dunia Maya
Doomscrolling juga dapat menciptakan ilusi partisipasi sosial. Seseorang mungkin merasa telah “peduli” hanya dengan membaca atau membagikan berita tentang penderitaan orang lain, tanpa diikuti oleh tindakan nyata. Hal ini berpotensi menurunkan motivasi untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan sosial atau kemanusiaan.
Lebih jauh lagi, interaksi digital yang minim konteks emosional, seperti komentar singkat atau reaksi emoji, tidak selalu mampu menggantikan empati yang dibangun melalui interaksi tatap muka. Akibatnya, empati menjadi dangkal dan bersifat performatif.
Dampak Jangka Panjang terhadap Hubungan Sosial
Jika dibiarkan, kebiasaan doomscrolling dapat mengganggu kualitas hubungan sosial. Individu yang mengalami mati rasa emosional mungkin kesulitan merespons kebutuhan emosional orang di sekitarnya. Dalam skala yang lebih luas, hal ini dapat mengikis kohesi sosial dan solidaritas masyarakat.
Penurunan empati juga berpotensi memengaruhi pengambilan keputusan moral, baik dalam konteks pribadi maupun profesional. Ketika kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain melemah, individu mungkin menjadi kurang peduli terhadap dampak sosial dari tindakan mereka.
Upaya Mengurangi Dampak Negatif
Mengatasi dampak doomscrolling terhadap empati memerlukan kesadaran dan pengelolaan konsumsi informasi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Membatasi waktu penggunaan media sosial
- Memilih sumber informasi yang kredibel dan tidak sensasional
- Mengimbangi konsumsi berita negatif dengan konten positif
- Melibatkan diri dalam kegiatan sosial secara langsung
- Melatih mindfulness untuk meningkatkan kesadaran emosional
Dengan mengatur pola konsumsi informasi secara bijak, individu dapat menjaga keseimbangan antara kesadaran terhadap isu global dan kesehatan emosional pribadi.
Kesimpulan
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan digital yang tidak berbahaya. Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus terhadap konten negatif dapat mengikis kemampuan empati dan memengaruhi kualitas hubungan sosial. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk lebih sadar dalam mengelola interaksi dengan informasi digital, agar tetap mampu merespons dunia dengan kepedulian yang autentik dan berkelanjutan.
BACA JUGA ARTIKEL: Nomophobia (Takut Jauh dari HP) terhadap Kesehatan Mental
