Trauma Bond pada Hubungan yang Tidak Secara Fisik Kasar

Istilah trauma bond sering kali diasosiasikan dengan hubungan yang melibatkan kekerasan fisik. Namun dalam praktiknya, trauma bond tidak selalu terbentuk melalui tindakan kasar yang terlihat secara kasat mata. Banyak individu mengalami keterikatan yang kuat dan sulit dilepaskan dalam hubungan yang secara fisik tampak “baik-baik saja”, tetapi secara emosional tidak sehat.

Fenomena ini sering membingungkan, karena dari luar hubungan tersebut tidak menunjukkan tanda kekerasan yang eksplisit. Namun secara psikologis, dinamika yang terjadi dapat menciptakan ketergantungan emosional yang kuat, bahkan ketika hubungan tersebut menimbulkan luka batin yang berulang.

Pengertian Trauma Bond

Trauma bond adalah keterikatan emosional yang terbentuk melalui siklus perlakuan menyakitkan yang diselingi dengan momen perhatian, kasih sayang, atau penyesalan. Pola ini menciptakan hubungan yang bersifat adiktif secara emosional.

Konsep ini sering dikaitkan dengan mekanisme intermittent reinforcement, yaitu pola pemberian penghargaan yang tidak konsisten. Dalam hubungan, hal ini terjadi ketika pasangan bersikap hangat dan penuh kasih pada satu waktu, lalu menjadi dingin, mengabaikan, atau menyakiti secara emosional di waktu lain.

Trauma Bond Tanpa Kekerasan Fisik

Banyak hubungan tidak melibatkan kekerasan fisik, tetapi tetap menciptakan trauma bond melalui bentuk-bentuk kekerasan emosional atau psikologis yang lebih halus. Beberapa contohnya meliputi:

1. Inkonsistensi Emosional

Pasangan menunjukkan perhatian dan kedekatan intens, kemudian tiba-tiba menjauh tanpa penjelasan yang jelas. Siklus ini membuat individu terus berharap pada fase “baiknya”.

2. Gaslighting

Manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan persepsi dan perasaannya sendiri. Korban sering merasa bersalah atas reaksi yang sebenarnya wajar.

3. Breadcrumbing

Memberikan perhatian kecil yang cukup untuk mempertahankan keterikatan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan komitmen yang jelas.

4. Love Bombing yang Diikuti Penarikan Diri

Fase awal hubungan sangat intens dan penuh janji, kemudian secara perlahan perhatian tersebut berkurang drastis. Walaupun tidak ada kekerasan fisik, pola-pola ini dapat menciptakan tekanan emosional yang signifikan dan membentuk ketergantungan psikologis.

Mengapa Trauma Bond Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor yang berkontribusi pada terbentuknya trauma bond dalam hubungan non-fisik kasar:

1. Intermittent Reinforcement

Ketika kasih sayang diberikan secara tidak konsisten, otak melepaskan dopamin dalam jumlah yang tidak stabil. Pola ini serupa dengan mekanisme kecanduan, sehingga individu sulit melepaskan hubungan tersebut.

2. Attachment Insecurity

Individu dengan pola keterikatan cemas (anxious attachment) lebih rentan terhadap trauma bond karena memiliki ketakutan akan kehilangan dan kebutuhan tinggi akan validasi.

3. Ketergantungan Emosional

Hubungan menjadi sumber utama rasa aman dan harga diri, sehingga meskipun menyakitkan, hubungan tersebut tetap dipertahankan.

4. Rasionalisasi dan Harapan

Korban sering berpegang pada versi terbaik dari pasangan dan berharap fase baik akan kembali secara permanen.

Tanda-Tanda Trauma Bond Tanpa Kekerasan Fisik

Beberapa indikator yang sering muncul antara lain:

  • Sulit melepaskan meskipun sadar hubungan tidak sehat
  • Merasa cemas berlebihan saat pasangan menjauh
  • Mengabaikan red flags demi mempertahankan hubungan
  • Membela pasangan meskipun sering merasa terluka
  • Mengalami siklus putus dan kembali berulang

Hubungan semacam ini sering membuat individu merasa lelah secara emosional, tetapi tetap merasa tidak mampu benar-benar pergi.

Dampak Psikologis

Trauma bond dalam hubungan non-fisik kasar dapat menimbulkan dampak jangka panjang seperti:

  • Penurunan harga diri
  • Kecemasan kronis
  • Overthinking dan hiperwaspada
  • Kesulitan mempercayai hubungan di masa depan
  • Kebingungan antara cinta dan ketergantungan

Karena tidak ada kekerasan fisik yang nyata, korban sering meremehkan luka emosional yang dialaminya.

Perbedaan dengan Hubungan Ambivalen Biasa

Tidak semua hubungan tarik-ulur adalah trauma bond. Perbedaannya terletak pada intensitas dampak psikologis dan adanya pola manipulatif yang berulang. Trauma bond melibatkan siklus luka dan hadiah emosional yang sistematis, sedangkan ambivalensi biasa bisa terjadi karena kebingungan atau ketidaksiapan tanpa unsur manipulasi.

Kesimpulan

Kejadian ini tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Hubungan yang secara lahiriah tampak normal dapat menyimpan dinamika emosional yang tidak sehat dan membentuk keterikatan yang sulit dilepaskan. Memahami bahwa trauma emosional bisa terjadi tanpa luka fisik adalah langkah penting dalam mengenali kesehatan suatu hubungan. Kesadaran ini membantu individu membedakan antara cinta yang sehat dan keterikatan yang terbentuk dari siklus luka dan harapan yang tidak stabil.

BACA JUGA ARTIKEL: Ambivalent Relationship yang Menciptakan Ketidakpastian Emosional

Spread the love

Tinggalkan Balasan