
Dalam dinamika hubungan interpersonal, tidak semua relasi berjalan secara stabil dan konsisten. Salah satu pola yang sering muncul namun jarang disadari adalah ambivalent relationship pattern, yaitu pola hubungan yang ditandai dengan sikap Tarik ulur, kedekatan yang tidak diikuti kepastian, serta komitmen yang tidak pernah benar-benar ditegaskan.
Pada pola ini, seseorang dapat terlihat sangat dekat, penuh perhatian, dan terlibat secara emosional, namun pada saat yang sama tidak sepenuhnya memilih atau berkomitmen terhadap pasangannya. Situasi tersebut menciptakan kebingungan, ketidakpastian, dan tekanan psikologis bagi kedua belah pihak.
Definisi Ambivalent Relationship Pattern
Secara psikologis, ambivalensi mengacu pada adanya dua perasaan yang saling bertentangan terhadap objek atau individu yang sama. Dalam konteks hubungan romantis, ambivalensi muncul ketika seseorang:
- Menginginkan kedekatan, tetapi takut kehilangan kebebasan.
- Merasa nyaman dengan pasangan, tetapi masih membuka kemungkinan dengan orang lain.
- Tidak ingin mengakhiri hubungan, namun juga tidak sepenuhnya berkomitmen.
Akibatnya, hubungan berada dalam kondisi menggantung, tidak sepenuhnya maju, tetapi juga tidak selesai.
Karakteristik Pola Hubungan Tarik-Ulur

Beberapa ciri umum dari ambivalent relationship pattern antara lain:
1. Inkonsistensi Emosional
Seseorang dapat menunjukkan perhatian intens dalam satu waktu, lalu menjadi dingin atau menjauh di waktu lain tanpa penjelasan yang jelas.
2. Ketidakjelasan Komitmen
Status hubungan mungkin tidak pernah ditegaskan secara tegas. Ada kedekatan, tetapi tidak ada kepastian.
3. Memberi Harapan Tanpa Keputusan
Pasangan tetap dipertahankan secara emosional, namun pilihan akhir tidak pernah dibuat.
4. Ketergantungan pada Kenyamanan
Hubungan dipertahankan bukan karena keyakinan penuh, melainkan karena rasa nyaman, takut sendirian, atau takut kehilangan.
Faktor Psikologis yang Mendasari

Pola ambivalen sering kali berkaitan dengan beberapa faktor psikologis berikut:
1. Disonansi Kognitif
Individu mengalami konflik internal antara keinginan dan realitas. Ia ingin kedekatan emosional, tetapi juga tertarik pada alternatif lain. Konflik ini menciptakan ketegangan mental yang kemudian tercermin dalam perilaku yang tidak konsisten.
2. Attachment Insecurity
Pola keterikatan yang tidak aman (anxious atau avoidant attachment) dapat membuat seseorang takut kehilangan sekaligus takut terlalu terikat. Individu dengan pola ini cenderung mempertahankan hubungan sambil tetap menjaga jarak emosional.
3. Fear of Loss dan Fear of Being Alone
Ketakutan akan kesepian atau kehilangan stabilitas emosional sering membuat seseorang enggan mengakhiri hubungan, meskipun ia tidak lagi sepenuhnya yakin.
Dampak terhadap Pasangan
Ambivalent relationship pattern tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga pada pasangannya. Dampak yang sering muncul antara lain:
- Kebingungan emosional
- Penurunan rasa percaya diri
- Overthinking dan kecemasan berlebihan
- Ketidakamanan dalam hubungan
- Ketergantungan emosional
Pasangan yang berada dalam situasi ini sering kali mempertanyakan apakah ia benar-benar dipilih atau hanya menjadi “opsi yang aman”. Ketidakjelasan ini dapat menimbulkan tekanan psikologis jangka panjang.
Dinamika Siklus Tarik-Ulur
Hubungan ambivalen biasanya berjalan dalam siklus berulang:
- Fase kedekatan dan intensitas emosional tinggi
- Fase penarikan diri atau jarak emosional
- Fase rekonsiliasi atau kembali mendekat
- Pengulangan pola yang sama
Siklus ini menciptakan ketergantungan emosional karena fase kedekatan terasa sangat kuat, sementara fase menjauh menimbulkan kecemasan.
Implikasi Jangka Panjang
Jika pola ini dibiarkan tanpa refleksi dan komunikasi yang jelas, hubungan berpotensi menjadi tidak sehat. Ketidakpastian yang berkepanjangan dapat menurunkan kualitas kesehatan mental kedua pihak serta menghambat pertumbuhan emosional individu. Dalam jangka panjang, hubungan yang tidak memiliki kejelasan arah cenderung menguras energi emosional dan menghambat terciptanya relasi yang stabil dan saling mendukung.
Kesimpulan
Ambivalent relationship pattern merupakan pola hubungan yang ditandai oleh ambivalensi emosional, inkonsistensi, dan ketidakjelasan komitmen. Meskipun hubungan semacam ini sering dipertahankan karena kenyamanan atau ketakutan akan kehilangan, dampaknya dapat menciptakan kebingungan dan ketidakstabilan psikologis.
Pemahaman terhadap pola ini menjadi langkah awal untuk melakukan refleksi diri, membangun komunikasi yang lebih jujur, serta menentukan apakah hubungan tersebut benar-benar sehat dan layak dipertahankan. Kejelasan pilihan merupakan fondasi utama dalam menciptakan hubungan yang aman dan dewasa secara emosional.
BACA JUGA ARTIKEL: Relapse dalam Hubungan: Kesempatan Kedua?
