Banyak orang tahu cara menabung yang benar, tetapi sulit menjalankannya. Penyebabnya jarang soal niat. Biasanya urutannya yang keliru: kita belanja dulu, lalu menabung dari sisanya. Akibatnya, saldo tabungan sering kosong sebelum akhir bulan. Artikel ini membahas satu sistem sederhana, yaitu bayar diri sendiri dulu, lalu otomatiskan prosesnya.
Di bawah ini ada urutan langkah yang bisa langsung dicoba, lengkap dengan contoh hitungan ilustrasi dan rencana tujuh hari pertama.
Kenapa menabung sering gagal: menyisakan, bukan menyisihkan
Kebanyakan orang menabung dengan cara menunggu sisa uang. Pertama, gaji masuk. Kemudian cicilan, belanja, jajan, dan kebutuhan mendadak mengambil bagiannya. Terakhir, kalau masih ada yang tersisa, barulah uang itu masuk tabungan. Masalahnya, uang yang masih ada di rekening belanja mudah ikut terpakai.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut pola ini lewat pesan singkat: “Sisihkan bukan sisakan!” Artinya, tabungan harus keluar lebih dulu dari pendapatan. Selain itu, OJK juga membedakan keduanya dengan jelas. Menyisihkan berarti memisahkan uang dari pendapatan sebelum dibelanjakan. Menyisakan berarti menabung dari sisa belanja.
Dengan begitu, kegagalan menabung bukan selalu soal boros atau kurang disiplin. Sering kali sistemnya yang belum tepat. Karena itu, perbaikan terbaik dimulai dari urutan, bukan dari tekad yang lebih keras. Jika kamu ingin tips tambahan sebagai pelengkap, baca juga 5 cara jitu agar bisa menabung.
Tentukan tujuan dan jangka waktu dulu
Menabung tanpa tujuan mudah bocor. Uang terasa tidak punya tugas, sehingga godaan belanja selalu menang. Sebaliknya, tujuan yang jelas memberi alasan untuk menahan diri. OJK menyarankan dua hal di tahap ini: tentukan tujuan beserta jangka waktunya, lalu susun prioritasnya.
Mulailah dengan menulis tiga tujuan. Contohnya dana darurat, membeli laptop, dan uang muka rumah. Setelah itu, beri tenggat pada masing-masing tujuan. Misalnya, laptop dalam 12 bulan dan uang muka rumah dalam beberapa tahun. Selanjutnya, urutkan mana yang paling mendesak. Dengan demikian, kamu tahu ke mana uang pertama harus pergi.
Tujuan berbeda memerlukan strategi berbeda. Untuk barang yang kamu inginkan, panduan tips menabung untuk membeli barang impian bisa membantu. Sementara itu, untuk target besar seperti properti, kamu bisa membaca cara menabung cepat untuk membeli rumah.
Cara menabung yang benar dimulai di awal gaji
Inilah inti sistem “bayar diri sendiri dulu”. Pada hari gajian, sisihkan jumlah tabungan sebelum kamu menyentuh uang lainnya. Jangan menunggu akhir bulan. Jangan pula mengandalkan ingatan, karena ingatan mudah kalah oleh kesibukan.
Cara paling andal adalah transfer otomatis. Atur instruksi di aplikasi perbankan agar sejumlah uang pindah ke rekening tabungan sehari setelah gaji masuk. Dengan begitu, kamu tidak perlu mengambil keputusan setiap bulan. Prosesnya berjalan sendiri, sehingga kebiasaan terbentuk tanpa banyak usaha.
Soal nominal, mulailah dari angka yang realistis. Lebih baik menyisihkan jumlah kecil secara rutin daripada jumlah besar yang berhenti di bulan ketiga. Selanjutnya, naikkan nominalnya saat penghasilan naik atau cicilan lunas. Pendekatan bertahap ini terasa lebih ringan, sehingga kamu lebih mungkin bertahan.
Pisahkan rekening agar tabungan tidak ikut terpakai
Uang tabungan sebaiknya tidak tinggal bersama uang belanja. Alasannya sederhana: saldo yang terlihat besar bisa membuat kita merasa boleh belanja lebih. Karena itu, siapkan minimal dua rekening. Rekening pertama menampung gaji dan pengeluaran harian. Rekening kedua khusus untuk tabungan.
Selain itu, kamu bisa menambah rekening ketiga untuk tujuan tertentu, misalnya liburan atau dana darurat. Beri nama yang jelas pada tiap rekening jika bank menyediakan fiturnya. Nama seperti “Dana Darurat” mengingatkan tugas uang itu lebih jelas daripada “Tabungan 2”.
Satu hal lagi: jangan pasang kartu debit rekening tabungan di dompet. Akses yang sedikit lebih repot bisa membantu menahan belanja impulsif. Jika kamu bingung memilih antara rekening bank dan dompet digital, pelajari dulu perbandingan rekening bank dan dompet digital sebelum menentukan.
Dana darurat jadi tabungan pertama
Sebelum mengejar tujuan lain, bangun dulu dana darurat. Dana ini melindungi tabungan lainnya. Tanpa dana darurat, satu kejadian mendadak bisa menghabiskan tabungan tujuan. Contohnya biaya berobat atau perbaikan kendaraan. Bahkan, kita bisa terpaksa berutang.
Menurut OJK, dana darurat sebaiknya minimal tiga kali jumlah pengeluaran per bulan. Jadi, hitung dulu pengeluaran bulananmu, lalu kalikan tiga. Angka itu menjadi target awal. OJK juga menyebut deposito dan reksa dana pasar uang sebagai contoh instrumen untuk dana darurat. Namun, pilihan akhir tetap bergantung pada kebutuhan dan profil risikomu.
Ingat bahwa dana darurat bukan untuk diskon, liburan, atau gawai baru. Gunakan hanya untuk kejadian tak terduga. Setelah dana ini terkumpul, barulah kamu mengalihkan setoran rutin ke tujuan berikutnya.
Catat pengeluaran secara ringan
Kamu tidak perlu aplikasi rumit atau buku besar. Cukup tahu ke mana uang pergi. Pertama, catat pengeluaran tetap, seperti sewa, listrik, cicilan, dan transportasi. Kedua, catat pengeluaran harian secara garis besar, misalnya makan, jajan, dan hiburan. Setelah satu bulan, pola boros akan terlihat sendiri.
Catatan ini juga membantu menentukan nominal tabungan yang masuk akal. Tanpa catatan, kamu hanya menebak. Dengan catatan, kamu bisa melihat pos mana yang aman dipangkas. Cara termudah adalah memakai catatan di ponsel atau lembar kerja sederhana, lalu mengisinya lima menit setiap malam.
Jika kamu menabung sambil menjalankan usaha kecil, pencatatan perlu lebih rapi. Dengan begitu, uang pribadi dan uang usaha tidak tercampur. Dalam hal ini, contoh pembukuan sederhana bisa menjadi titik awal yang praktis.
Pilih tempat menyimpan sesuai jangka waktu
Tidak semua uang cocok disimpan di tempat yang sama. OJK menyarankan agar kita memilih produk sesuai jangka waktu dan profil risiko. Prinsipnya mudah dipahami. Uang untuk kebutuhan dekat dan uang untuk tujuan jangka panjang punya kebutuhan berbeda. Karena itu, tempat menyimpannya pun bisa berbeda.
Karena itu, pertimbangkan tiga pertanyaan sebelum memilih. Kapan uang ini akan terpakai? Seberapa cepat saya perlu mencairkannya? Seberapa besar kerugian yang sanggup saya tanggung? Jawaban ketiga pertanyaan ini lebih penting daripada janji imbal hasil mana pun.
Beberapa orang tertarik menabung dalam bentuk emas. Jika kamu salah satunya, pelajari dulu mekanisme dan risikonya lewat artikel cara menabung emas di Pegadaian. Bacalah ketentuan resminya, lalu putuskan sendiri apakah cocok dengan tujuanmu.
Cek LPS dan izin OJK sebelum menyimpan
Sebelum menaruh uang di mana pun, pastikan lembaganya terdaftar dan diawasi OJK. Ini salah satu saran OJK dalam artikel Sikapi Uangmu tentang menabung. Lembaga yang tidak jelas izinnya berisiko tinggi, seberapa pun menarik penawarannya.
Untuk simpanan di bank, perhatikan juga penjaminan LPS. Menurut FAQ LPS, simpanan dijamin paling tinggi Rp2 miliar per nasabah per bank. Saldo semua rekeningmu di bank yang sama dijumlahkan. Jadi, memecah uang ke beberapa rekening di satu bank tidak menambah batas penjaminan.
Namun, penjaminan itu punya syarat yang LPS singkat sebagai 3T. Pertama, simpanan tercatat dalam pembukuan bank. Kedua, tingkat bunga simpanan tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS. Ketiga, nasabah tidak melakukan tindakan yang merugikan bank. Karena tingkat bunga penjaminan bisa berubah, cek angka terbarunya langsung di lps.go.id.
Kesalahan umum saat menabung
Sebagian kegagalan berulang pada pola yang sama. Berikut kesalahan yang paling sering muncul.
- Menunggu sisa uang. Tabungan baru masuk setelah semua pengeluaran selesai, sehingga sering tidak ada yang tersisa.
- Menabung tanpa tujuan. Uang tidak punya tugas, jadi mudah bocor untuk belanja spontan.
- Melewatkan dana darurat. Akibatnya, kejadian mendadak memaksa kita menguras tabungan tujuan.
- Mencampur rekening. Saldo gabungan membuat batas antara tabungan dan belanja menjadi kabur.
- Tergiur imbal hasil tinggi. Tawaran yang terdengar terlalu bagus patut dicurigai, apalagi bila izinnya tidak jelas.
- Berhenti setelah satu kali gagal. Satu bulan yang bolong bukan alasan menyerah. Lanjutkan saja bulan berikutnya.
Jika kamu masih kuliah atau hidup dari uang saku bulanan, kesalahan ini terasa lebih nyata. Dalam hal itu, tips di pengelolaan keuangan mahasiswa bisa menjadi pelengkap yang berguna.
Contoh hitungan cara menabung yang benar
Angka di bawah ini hanya ilustrasi buatan sendiri, bukan data atau rekomendasi. Sesuaikan dengan kondisimu.
Bayangkan seseorang bergaji Rp5.000.000 per bulan. Pengeluaran wajib dan hariannya sekitar Rp3.500.000. Untuk dana darurat tiga kali pengeluaran bulanan, targetnya Rp10.500.000.
- Setoran otomatis di hari gajian: Rp750.000, atau 15% dari gaji.
- Sisa untuk hidup dan kebutuhan lain: Rp4.250.000.
- Waktu mencapai target dana darurat: Rp10.500.000 dibagi Rp750.000, yaitu 14 bulan (bunga diabaikan agar hitungan sederhana).
Setelah dana darurat terkumpul, setoran Rp750.000 itu bisa pindah ke tujuan lain. Misalnya, laptop seharga Rp6.000.000 dalam 12 bulan memerlukan Rp500.000 per bulan. Sisanya, Rp250.000, bisa masuk pos tujuan jangka panjang. Dengan demikian, pola setoran tidak berubah, hanya tujuannya yang bergeser. Perubahan ini menjaga kebiasaan tetap stabil.
Jika 15% terasa berat, mulai saja dari 5% atau 10%. Waktu pencapaian memang lebih panjang. Namun, kebiasaan yang bertahan lebih berharga daripada target yang cepat tetapi berhenti di tengah jalan.
Langkah 7 hari pertama menerapkan cara menabung yang benar
Agar tidak berhenti di tahap membaca, ikuti rencana singkat berikut.
- Hari 1: Tulis tiga tujuan menabung beserta tenggatnya, lalu urutkan prioritasnya.
- Hari 2: Hitung pengeluaran bulananmu, kemudian kalikan tiga untuk target dana darurat.
- Hari 3: Tentukan nominal setoran rutin yang realistis, misalnya 5% sampai 15% dari penghasilan.
- Hari 4: Buka rekening terpisah untuk tabungan setelah mengecek izin OJK dan status penjaminan LPS.
- Hari 5: Atur transfer otomatis sehari setelah tanggal gajian.
- Hari 6: Mulai catat pengeluaran harian dengan cara paling sederhana yang kamu suka.
- Hari 7: Tinjau hasilnya, lalu sesuaikan nominal atau jadwal bila ada yang tidak realistis.
Setelah tujuh hari, sistemmu sudah berjalan. Selanjutnya, tinjau sekali sebulan. Naikkan setoran saat penghasilan naik, dan pindahkan setoran ke tujuan berikutnya saat satu target tercapai.
Catatan penting
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan nasihat keuangan personal. Kondisi setiap orang berbeda. Sebelum memilih produk simpanan atau investasi, periksa ketentuan resmi di situs OJK dan LPS, atau konsultasikan dengan perencana keuangan berizin.