Jurusan Kuliah IPS: Pilihan, Syarat, dan Cara Memilih

Banyak orang menganggap jurusan kuliah IPS pilihan “aman”, padahal isinya sangat beragam. Selain itu, aturan SMA dan seleksi masuk PTN beberapa tahun terakhir ikut berubah. Di bawah ini ada kondisi terbarunya berdasarkan sumber resmi, contoh prodi soshum, dan langkah memilih yang bisa langsung kamu praktikkan.

Apa yang dimaksud jurusan kuliah IPS?

Istilah ini merujuk pada program studi rumpun ilmu sosial dan humaniora. Dalam seleksi PTN, rumpun ini lebih dikenal sebagai soshum. Lawannya adalah saintek, yaitu rumpun sains dan teknologi.

Program studi soshum mempelajari manusia, masyarakat, ekonomi, hukum, dan komunikasi. Karena itu, mahasiswanya banyak membaca, berdiskusi, dan menganalisis kasus. Meski demikian, beberapa prodi tetap memakai hitungan, misalnya akuntansi dan ekonomi.

Ingat, nama kelompok ini lebih berkaitan dengan seleksi masuk daripada pilihan kariermu. Jadi, jangan melihatnya sebagai kotak yang membatasi masa depan.

Dengan kata lain, rumpun ini bukan satu pintu yang sempit. Isinya beragam, dari bisnis sampai pendidikan. Setiap prodi menuntut kemampuan yang berbeda, misalnya menulis, bernalar, berhitung, atau berbicara di depan orang. Oleh sebab itu, kenali dulu kekuatanmu sebelum membandingkan nama prodi.

Bagaimana penjurusan SMA memengaruhi pilihan kuliah sekarang?

Dulu, siswa SMA masuk jurusan IPA, IPS, atau Bahasa sejak kelas XI. Kemudian, Kurikulum Merdeka meniadakan penjurusan itu. Kepala BSKAP Kemendikbudristek saat itu, Anindito Aditomo, menyebut kurikulum tersebut diterapkan bertahap sejak 2021 (CNN Indonesia, 24 Juli 2024).

Sebagai gantinya, siswa memilih mata pelajaran sesuai minat. Menurut buku saku Kurikulum Merdeka yang dikutip Bisnis.com, siswa kelas XI dan XII memilihnya dengan panduan guru BK.

Namun, pemerintah kembali membahas kebijakan ini. Pada April 2025, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan jurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan dihidupkan lagi. Akan tetapi, pada Juli 2025 Kemendikdasmen menyebut rencana itu masih dikaji. Untuk tahun ajaran tersebut, siswa tetap memilih peminatan mata pelajaran (Medcom.id, 18 Juli 2025).

Akibatnya, kondisi tiap sekolah bisa berbeda. Tanyakan langsung ke sekolah dan pantau pengumuman resmi Kemendikdasmen. Singkatnya, pilihan kuliah kini lebih bergantung pada mata pelajaran, minat, dan syarat prodi daripada label jurusan di rapor.

Bagaimana UTBK-SNBT, SNBP, dan TKA memperlakukan siswa soshum?

Panitia SNPMB mengelola seleksi nasional, dengan informasi resmi di snpmb.id. Poin berikut berlaku untuk seleksi 2026. Aturan tahun berikutnya bisa berbeda, jadi tunggu pengumuman resmi SNPMB.

UTBK-SNBT 2026

Menurut paparan resmi SNPMB 2026, UTBK terdiri atas dua kelompok. Pertama, Tes Potensi Skolastik. Kedua, Tes Literasi yang mencakup literasi bahasa Indonesia, literasi bahasa Inggris, dan penalaran matematika. Durasi tesnya 195 menit.

Dokumen itu tidak menyebut pilihan paket saintek atau soshum untuk peserta. Artinya, semua peserta mengerjakan struktur tes yang sama.

Di sisi lain, skor literasi bahasa Indonesia pada sertifikat UTBK 2026 dipecah menjadi nilai saintek dan soshum. Menurut Eduart Wolok, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, langkah ini menjaga seleksi tetap adil (detikEdu, 26 Mei 2026).

SNBP dan Tes Kemampuan Akademik

Panitia SNPMB menyatakan UTBK-SNBT 2026 tidak memakai nilai TKA (Tirto). Sebaliknya, paparan SNPMB 2026 mensyaratkan siswa pendaftar SNBP memiliki nilai TKA. Menurut PMB UIN Sunan Gunung Djati, nilai TKA menjadi validator nilai rapor. Masing-masing kampus pun menentukan bobotnya (PMB UIN SGD).

Pada TKA jenjang SMA, mata pelajaran wajibnya adalah bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris. Selain itu, siswa memilih mata pelajaran pilihan. Menurut detikEdu, pilihan itu bisa disesuaikan dengan prodi tujuan atau pilihan karier murid.

Jadi, pilihlah mata pelajaran yang mendukung prodi incaranmu. Misalnya, calon mahasiswa ekonomi perlu mempertimbangkan mapel yang dekat dengan ekonomi.

Apa saja contoh rumpun soshum yang umum?

Berikut gambaran umum prodi yang sering masuk kelompok soshum. Isi kurikulum bisa berbeda antarkampus, maka lihat kurikulum resmi tiap prodi sebelum memilih.

Ekonomi dan bisnis

  • Manajemen. Mempelajari cara mengelola organisasi, pemasaran, keuangan, dan sumber daya manusia.
  • Akuntansi. Berfokus pada pencatatan, pelaporan, dan pemeriksaan keuangan.
  • Ekonomi Pembangunan. Membahas pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dan kebijakan yang mengaturnya.

Hukum, politik, dan hubungan antarnegara

  • Ilmu Hukum. Mempelajari aturan, sistem peradilan, dan cara menafsirkan hukum.
  • Hubungan Internasional. Menelaah hubungan antarnegara, diplomasi, dan isu global.
  • Ilmu Politik dan Administrasi Publik. Membahas pemerintahan, kebijakan, dan pelayanan publik.

Sosial, komunikasi, dan pendidikan

  • Psikologi. Mempelajari perilaku dan proses mental manusia, termasuk metode penelitiannya.
  • Ilmu Komunikasi. Membahas cara orang menyusun dan menyampaikan pesan lewat media.
  • Sosiologi. Mengkaji kelompok, hubungan sosial, dan perubahan masyarakat.
  • Prodi kependidikan. Menyiapkan calon guru, misalnya pendidikan ekonomi atau pendidikan sejarah.

Perlu diingat, nama yang mirip belum tentu berisi materi yang sama. Contohnya, manajemen dan akuntansi sama-sama berurusan dengan uang, tetapi cara kerjanya berbeda.

Bagaimana prospek lulusan prodi soshum?

Jawabannya berbeda untuk tiap orang. Prospek bergantung pada kampus, kemampuan, pengalaman, dan kondisi pasar kerja saat kamu lulus. Karena itu, tulisan ini sengaja tidak menyebut angka gaji atau peluang kerja per prodi.

Banyak calon mahasiswa mengira jurusan kuliah IPS hanya mengarah ke satu jenis pekerjaan. Anggapan itu terlalu sempit, sebab jalur karier sangat bergantung pada pilihan dan usaha masing-masing.

Sebagai gantinya, gunakan sumber resmi. PDDikti adalah pangkalan data resmi Kemdiktisaintek tentang perguruan tinggi dan program studi. Di sana kamu bisa memeriksa status prodi dan kampusnya.

Untuk gambaran pasar kerja, pantau rilis ketenagakerjaan dari lembaga resmi seperti BPS dan Kemnaker. Setelah itu, bandingkan dengan minat dan kekuatanmu sendiri. Ulasan tentang bidang yang sedang ramai ada di artikel jurusan kuliah bergaji tinggi.

Bolehkah lulusan IPS memilih prodi saintek atau campuran?

Batas lama antara IPA dan IPS kini lebih longgar. Walau begitu, tiap PTN dan tiap prodi punya syarat sendiri. Syarat itu bisa berupa mata pelajaran tertentu, nilai, atau komponen tes.

Sebaliknya, siswa dari rumpun lain pun bisa tertarik pada prodi soshum. Prinsipnya sama: syarat tiap prodi menjadi acuan utama, bukan label pada rapor.

Jadi, jawaban jujurnya adalah bisa jadi boleh, tetapi kamu harus mengeceknya per prodi. Jangan mengandalkan kabar dari media sosial atau teman. Buka laman resmi PTN tujuan dan panduan di snpmb.id.

Selain itu, sebagian prodi campuran, seperti bisnis digital atau sistem informasi, mungkin membutuhkan dasar matematika yang kuat. Karena itu, perkuat matematika sejak dini jika kamu menyasar prodi semacam ini.

Bagaimana memilih jurusan kuliah IPS yang cocok?

Mulailah dari dirimu sendiri. Catat mata pelajaran yang kamu sukai dan kegiatan yang membuatmu betah berjam-jam. Kemudian, cocokkan catatan itu dengan isi kurikulum prodi.

Berikut langkah yang bisa kamu coba:

  1. Kenali minat lewat tes minat bakat jurusan kuliah.
  2. Baca kurikulum resmi prodi di situs kampus.
  3. Cek status prodi di PDDikti.
  4. Pastikan syarat seleksinya di snpmb.id dan laman PTN.
  5. Diskusikan hasilnya dengan orang tua dan guru BK.

Selain itu, simak tips memilih jurusan kuliah yang lebih umum. Jika khawatir salah pilih, baca kisah salah jurusan kuliah yang tetap bisa sukses. Bagi yang perlu membagi waktu dan biaya, ada juga bahasan soal kuliah sambil kerja.

Kesalahan umum saat memilih jurusan kuliah IPS

Beberapa kesalahan berikut sering terjadi. Dengan mengenalinya sejak awal, kamu lebih mudah menghindarinya.

  • Hanya melihat nama prodi. Nama yang terdengar keren belum tentu cocok dengan isi kuliahnya. Baca dulu daftar mata kuliah di situs kampus.
  • Ikut-ikutan teman. Pilihan teman belum tentu sesuai minat dan kemampuanmu. Putuskan berdasarkan data dan pertimbanganmu sendiri.
  • Memakai aturan lama. Seleksi PTN berubah dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, rujuk panduan terbaru di snpmb.id, bukan unggahan lama.
  • Mengabaikan syarat mata pelajaran. Sebagian prodi menetapkan syarat tertentu. Periksa syarat itu sebelum menentukan mata pelajaran pilihan.

Peran orang tua dalam memilih prodi

Orang tua berperan sebagai teman diskusi, bukan penentu tunggal. Mulailah dengan bertanya apa yang membuat anak tertarik pada suatu prodi. Kemudian, ajak anak membaca sumber resmi bersama-sama.

Selain itu, bicarakan biaya, lokasi kampus, dan rencana cadangan secara terbuka. Dengan begitu, anak merasa mendapat dukungan dan keputusannya lebih matang. Bagaimanapun, anaklah yang akan menjalani kuliahnya setiap hari.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah SMA masih punya jurusan IPS?

Kurikulum Merdeka meniadakan penjurusan. Meski begitu, pemerintah sempat mengumumkan rencana menghidupkannya lagi pada 2025, dan rencana itu masih dikaji per Juli 2025. Karena itu, cek ke sekolahmu dan laman resmi Kemendikdasmen.

Apakah UTBK-SNBT 2026 memisahkan tes IPA dan IPS?

Tidak ada paket tes terpisah. Paparan SNPMB 2026 hanya memuat Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi. Namun, skor literasi bahasa Indonesia di sertifikat dipecah menjadi nilai saintek dan soshum.

Apakah nilai TKA dipakai di SNBT 2026?

Tidak. Menurut panitia SNPMB, UTBK-SNBT 2026 tidak memakai nilai TKA. Sebaliknya, nilai TKA menjadi syarat di jalur SNBP 2026.

Apakah lulusan IPS boleh memilih prodi saintek?

Itu tergantung syarat PTN dan prodi yang kamu tuju. Verifikasi di laman resmi kampus sebelum mendaftar.

Catatan: syarat dan aturan seleksi PTN dapat berubah setiap tahun. Informasi di atas mengacu pada seleksi 2026. Selalu cek informasi terbaru di snpmb.id dan laman resmi kampus tujuan.

Spread the love

Tinggalkan Balasan