Laporan keuangan UMKM minimal terdiri dari tiga bagian: laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan. Ketiganya merupakan komponen minimum menurut SAK EMKM, standar akuntansi khusus usaha mikro, kecil, dan menengah dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Laporan arus kas dan laporan perubahan modal tidak termasuk daftar minimum itu, tetapi tetap berguna untuk memantau uang usaha. Artikel ini membahas isi setiap laporan, siapa yang termasuk UMKM, serta langkah menyusunnya dari nol.
Komponen Laporan Keuangan UMKM Menurut SAK EMKM
SAK EMKM adalah acuan utama bagi pelaku usaha kecil. IAI merancang standar ini secara sederhana untuk entitas yang memenuhi definisi UMKM. Karena itu, pemilik usaha tidak perlu menyiapkan laporan serumit perusahaan besar.
Menurut SAK EMKM paragraf 3.9, komponen minimumnya seperti tabel berikut.
| Komponen | Isi Utama | Pertanyaan yang Terjawab |
|---|---|---|
| Laporan posisi keuangan | Aset, liabilitas, dan ekuitas pada akhir periode | Apa yang usaha miliki dan berapa utangnya? |
| Laporan laba rugi | Penghasilan dan beban selama periode | Apakah usaha untung atau rugi? |
| Catatan atas laporan keuangan | Tambahan dan rincian pos-pos tertentu yang relevan | Bagaimana cara membaca angka di laporan? |
Selanjutnya, paragraf 3.10 menjelaskan arti laporan keuangan lengkap. Laporan lengkap menyajikan minimum dua periode untuk setiap laporan beserta catatannya. Jadi, laporan tahun ini sebaiknya tampil berdampingan dengan angka tahun lalu. Dengan begitu, pembaca bisa melihat perkembangan usaha secara langsung.
Apa isi catatan atas laporan keuangan?
Banyak pemilik usaha melewatkan komponen ketiga ini. Padahal, SAK EMKM menyebutnya sebagai bagian minimum, sejajar dengan dua laporan lain. Catatan ini berisi tambahan dan rincian pos-pos tertentu yang relevan. Dengan kata lain, catatan menjelaskan angka yang tidak cukup jelas jika hanya tampil di tabel.
Sebagai gambaran praktis, catatan bisa memuat rincian piutang per pelanggan atau daftar peralatan usaha. Selain itu, Anda bisa menambahkan penjelasan singkat tentang pinjaman yang sedang berjalan. Intinya, tulis informasi yang membantu pembaca memahami laporan keuangan UMKM Anda tanpa perlu bertanya ulang.
Dua prinsip dasar yang sering terlupa
SAK EMKM paragraf 2.21 memuat konsep entitas bisnis. Artinya, usaha harus terpisah jelas dari pemiliknya, termasuk transaksinya. Kemudian, paragraf 2.26 melarang saling hapus antara aset dan liabilitas, juga antara penghasilan dan beban. Misalnya, usaha tidak boleh langsung mengurangkan utang dari piutang, kecuali SAK EMKM mensyaratkan atau mengizinkannya. Paragraf 2.27 lalu memberi satu contoh penyajian neto, yaitu untung atau rugi pelepasan aset tetap. Sumber lengkapnya ada di halaman SAK EMKM IAI.
Siapa yang Termasuk Kriteria UMKM?
Sebelum menyusun laporan keuangan UMKM, pastikan dulu usaha Anda masuk kategori yang tepat. Kriteria terbaru mengacu pada PP 7/2021. Dasarnya adalah UU 20/2008 yang kemudian berubah melalui UU Cipta Kerja.
PP ini memakai dua ukuran berbeda untuk dua keperluan berbeda. Modal usaha menjadi ukuran saat pendirian atau pendaftaran. Sementara itu, hasil penjualan tahunan menjadi ukuran untuk fasilitas, pelindungan, dan pemberdayaan. Ringkasannya seperti tabel di bawah, berdasarkan ulasan kriteria UMKM dari Hukumonline.
| Kategori | Modal Usaha (tanpa tanah dan bangunan) Pasal 35 ayat 3 | Hasil Penjualan Tahunan Pasal 35 ayat 5 |
|---|---|---|
| Mikro | Sampai Rp1 miliar | Sampai Rp2 miliar |
| Kecil | Lebih dari Rp1 miliar sampai Rp5 miliar | Lebih dari Rp2 miliar sampai Rp15 miliar |
| Menengah | Lebih dari Rp5 miliar sampai Rp10 miliar | Lebih dari Rp15 miliar sampai Rp50 miliar |
Bagaimana dengan SAK EP?
Sejak 1 Januari 2025, SAK EP (Entitas Privat) menggantikan SAK ETAP. Namun, entitas yang selama ini memakai SAK ETAP tidak lagi punya opsi “turun kelas” ke SAK EMKM. Informasi ini tercantum dalam berita DDTC tentang SAK EP. Oleh karena itu, usaha yang sudah memakai SAK ETAP sebaiknya berdiskusi dengan akuntan sebelum memilih standar.
Cara Membuat Laporan Keuangan UMKM dari Nol
Langkah berikut merujuk pada panduan praktik dari Jurnal.id, penyedia software akuntansi. Perlu diingat, panduan ini bukan standar resmi. Meski begitu, beberapa langkahnya sejalan dengan prinsip SAK EMKM, misalnya pemisahan uang usaha.
- Pisahkan rekening pribadi dan usaha. Langkah ini sejalan dengan konsep entitas bisnis. Tanpa pemisahan, angka laba mudah kabur.
- Catat transaksi harian tanpa menunda. Bagian tips panduan tersebut menyarankan pencatatan tidak lebih dari 24 jam. Setelah lewat beberapa hari, detail transaksi mudah terlupa.
- Gunakan buku kas harian sebagai dasar. Semua uang masuk dan keluar tercatat di sini lebih dulu.
- Buat buku pembantu piutang. Buku ini mencatat pelanggan yang belum membayar beserta jumlahnya.
- Susun laporan laba rugi di akhir periode. Rumusnya sederhana: penghasilan dikurangi beban.
- Susun neraca atau laporan posisi keuangan. Daftarkan aset dan liabilitas, lalu selisihnya menjadi ekuitas atau modal pemilik.
- Tambahkan laporan arus kas bila perlu. Laporan ini tidak termasuk komponen minimum SAK EMKM paragraf 3.9. Namun, laporan ini membantu melihat uang dari kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan.
- Lakukan review mingguan selama 15 sampai 30 menit. Saran ini juga berasal dari bagian tips panduan tersebut. Kebiasaan kecil ini membuat kesalahan cepat ketahuan.
Alat sederhana untuk mulai
Anda tidak harus langsung membeli software. Pada tahap awal, buku tulis atau spreadsheet sudah cukup untuk buku kas harian. Yang terpenting adalah konsistensi, bukan kecanggihan alat. Misalnya, buat satu lembar untuk kas, satu lembar untuk piutang, dan satu lembar untuk utang. Kemudian, tetapkan satu waktu tetap setiap pekan untuk mencocokkan catatan dengan saldo rekening usaha. Setelah kebiasaan ini berjalan, menyusun laporan keuangan UMKM di akhir periode akan terasa jauh lebih ringan.
Selain itu, Anda bisa membuat laporan perubahan modal sebagai pelengkap. Laporan ini tidak termasuk komponen minimum menurut paragraf 3.9. Walau begitu, laporan ini berguna untuk melihat berapa uang yang pemilik ambil untuk keperluan pribadi atau prive.
Contoh Ilustrasi Laporan Keuangan UMKM Sederhana
Contoh di bawah memakai angka fiktif yang sengaja bulat. Angka ini bukan data usaha nyata. Tujuannya hanya memperlihatkan alur hitungan dari laba rugi ke posisi keuangan.
Contoh ilustrasi laporan laba rugi (angka fiktif)
| Pos | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Pendapatan penjualan | 30.000.000 |
| Harga pokok penjualan | (15.000.000) |
| Laba kotor | 15.000.000 |
| Beban sewa | (3.000.000) |
| Beban gaji | (5.000.000) |
| Beban listrik dan internet | (1.000.000) |
| Beban lain-lain | (1.000.000) |
| Laba periode berjalan (sebelum pajak) | 5.000.000 |
Pertama, laba kotor berasal dari pendapatan dikurangi harga pokok penjualan. Kemudian, total beban operasional sebesar Rp10.000.000 mengurangi laba kotor. Hasil akhirnya laba periode berjalan Rp5.000.000 sebelum pajak. Agar sederhana, contoh ini belum memperhitungkan pajak penghasilan. Untuk menghitung kewajiban pajaknya, baca panduan cara menghitung pajak UMKM.
Contoh ilustrasi laporan posisi keuangan (angka fiktif)
| Aset | Rp | Liabilitas dan Ekuitas | Rp |
|---|---|---|---|
| Kas | 8.000.000 | Utang usaha | 5.000.000 |
| Piutang usaha | 4.000.000 | Pinjaman bank | 10.000.000 |
| Persediaan | 6.000.000 | Total liabilitas | 15.000.000 |
| Peralatan | 12.000.000 | Modal awal pemilik | 10.000.000 |
| Laba periode berjalan | 5.000.000 | ||
| Total ekuitas | 15.000.000 | ||
| Total aset | 30.000.000 | Total liabilitas dan ekuitas | 30.000.000 |
Perhatikan bahwa total aset sama dengan total liabilitas ditambah ekuitas. Jika kedua sisi tidak seimbang, berarti ada transaksi yang terlewat atau salah catat. Selain itu, laba Rp5.000.000 dari laporan laba rugi masuk ke ekuitas karena contoh ini mengabaikan pajak dan prive. Inilah hubungan antara kedua laporan tersebut.
Contoh ini juga menunjukkan sesuatu yang penting. Saldo kas hanya Rp8.000.000, padahal total aset mencapai Rp30.000.000. Karena itu, saldo kas atau bank saja tidak menggambarkan kondisi usaha secara utuh.
Tabel Cepat: Laporan Mana untuk Keputusan Apa?
Banyak pemilik usaha menyusun laporan, tetapi jarang memakainya untuk mengambil keputusan. Tabel berikut membantu menghubungkan pertanyaan bisnis dengan laporan yang tepat.
| Pertanyaan Bisnis | Laporan Rujukan | Angka Kunci |
|---|---|---|
| Apakah harga jual sudah menutup biaya? | Laba rugi | Laba kotor dan beban operasional |
| Bisakah usaha menambah pinjaman? | Posisi keuangan | Perbandingan liabilitas dan ekuitas |
| Kenapa untung tetapi kas menipis? | Arus kas dan buku piutang | Piutang yang belum tertagih |
| Berapa uang yang pemilik ambil? | Perubahan modal | Prive selama periode |
| Apakah usaha tumbuh dari tahun lalu? | Semua laporan, dua periode | Selisih antarperiode |
Misalnya, laba kotor yang terlalu tipis menandakan harga perlu dievaluasi. Pada kondisi ini, pelajari cara menentukan harga jual produk agar margin lebih sehat. Sebaliknya, jika piutang menumpuk, perbaiki termin pembayaran sejak awal kerja sama. Bagi usaha jasa, termin ini bisa Anda tulis jelas saat menyusun penawaran jasa sehingga arus kas lebih terjaga.
Kesalahan Umum Saat Menyusun Laporan Keuangan UMKM
Panduan Jurnal.id menyinggung beberapa kebiasaan keliru, seperti mencampur uang dan menunda pencatatan. Ditambah dengan prinsip SAK EMKM, berikut daftar yang perlu Anda hindari.
- Mencampur uang pribadi dan usaha. Akibatnya, laba terlihat lebih besar atau lebih kecil dari kenyataan.
- Menunda pencatatan. Semakin lama tertunda, semakin besar peluang transaksi hilang dari catatan.
- Menilai kondisi usaha hanya dari saldo bank. Padahal, piutang, persediaan, dan utang juga menentukan kesehatan usaha.
- Saling menghapus pos. Contohnya, mencatat penjualan setelah langsung dikurangi beban. SAK EMKM tidak memperkenankan cara ini kecuali disyaratkan atau diizinkan.
- Hanya menyajikan satu periode. Tanpa angka pembanding, laporan sulit menunjukkan arah perkembangan usaha.
Selain merapikan keputusan bisnis, catatan yang teratur juga membantu urusan perpajakan. Penjelasannya ada di artikel tentang pembukuan yang rapi mencegah denda pajak.
Kapan Perlu Akuntan atau Software Akuntansi?
Usaha mikro dengan transaksi sedikit umumnya cukup memakai buku kas dan spreadsheet. Namun, kebutuhan biasanya berubah ketika transaksi makin banyak. Berikut beberapa tanda yang patut Anda perhatikan.
- Transaksi harian sudah terlalu banyak untuk Anda catat manual dalam 24 jam.
- Usaha mulai punya banyak pelanggan dengan pembayaran tempo.
- Bank atau calon investor meminta laporan keuangan UMKM yang lengkap dua periode.
- Anda ragu memilih antara SAK EMKM dan SAK EP.
- Muncul pertanyaan pajak yang menyangkut kondisi khusus usaha Anda.
Software akuntansi membantu mengotomatiskan pencatatan dan menyusun laporan lebih cepat. Meski demikian, software tidak menggantikan penilaian profesional. Untuk keputusan standar akuntansi atau pajak, akuntan tetap menjadi rujukan yang lebih tepat.
Catatan Penting
Artikel ini berisi informasi umum tentang laporan keuangan UMKM, bukan nasihat akuntan atau konsultan pajak. Aturan dan standar dapat berubah, jadi selalu cek sumber resmi terbaru. Untuk kasus yang spesifik, konsultasikan dengan akuntan atau Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdekat.