
Bayangkan Anda merasakan nyeri tajam di satu sisi tubuh, seperti tersengat listrik atau terbakar, padahal tidak ada luka yang terlihat. Rasa sakit ini muncul perlahan dan semakin mengganggu aktivitas harian. Tidak lama kemudian, ruam kemerahan mulai tampak dan terasa perih saat di sentuh. Banyak orang mengira kondisi ini hanyalah iritasi kulit biasa. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda awal herpes zoster, penyakit yang kerap muncul tanpa peringatan dan menimbulkan rasa nyeri berkepanjangan.
Herpes zoster, yang di kenal juga sebagai shingles, merupakan penyakit kulit akibat aktifnya kembali virus Varicella. Virus ini adalah penyebab cacar air. Meski cacar air telah sembuh, patogen penyebabnya tetap bertahan di dalam tubuh. Virus tersebut bersembunyi di sistem saraf dan dapat aktif kembali setelah bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala apa pun.
Mengapa Herpes Zoster Bisa Muncul Kembali?
Kemunculan penyakit ini sangat berkaitan dengan kondisi sistem kekebalan tubuh. Sejalan dengan proses penuaan, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi perlahan menurun. Hal inilah yang membuat herpes zoster lebih sering di alami oleh orang dewasa dan lanjut usia. Selain faktor usia, stres berkepanjangan, kelelahan ekstrem, penyakit kronis, serta penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat melemahkan sistem imun.
Saat daya tahan tubuh menurun, virus Varicella Zoster memanfaatkan kondisi tersebut untuk kembali aktif. Virus ini menyerang saraf tertentu, sehingga gejala herpes zoster biasanya hanya muncul di satu sisi tubuh. Pola ini menjadi ciri khas yang membedakannya dari gangguan kulit lainnya. Area yang sering terdampak meliputi dada, punggung, perut, wajah, dan leher.
Gejala Awal yang Sering Tidak Disadari
Pada tahap awal, penyakit ini kerap sulit di kenali. Penderita biasanya merasakan nyeri, kesemutan, atau sensasi panas pada kulit tanpa adanya ruam. Kondisi ini sering di salahartikan sebagai nyeri otot atau gangguan saraf biasa. Beberapa hari kemudian, barulah muncul ruam kemerahan yang berkembang menjadi lepuhan kecil berisi cairan.
Lepuhan tersebut terasa perih dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang cukup berat. Dalam waktu satu hingga dua minggu, lepuhan akan mengering dan membentuk keropeng. Selain ruam, penderita juga dapat mengalami demam ringan, sakit kepala, serta tubuh terasa lemas.
Risiko dan Komplikasi Herpes Zoster
Herpes zoster bukan penyakit yang boleh di anggap sepele. Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah postherpetic neuralgia, yaitu nyeri saraf yang tetap bertahan meskipun ruam telah sembuh. Nyeri ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dan sangat mengganggu kualitas hidup, terutama pada lansia.
Jika herpes zoster muncul di area wajah, khususnya di sekitar mata, risikonya bisa lebih serius. Gangguan penglihatan bahkan kerusakan mata dapat terjadi bila penanganan terlambat. Selain itu, infeksi kulit sekunder juga dapat muncul jika lepuhan tidak di rawat dengan baik.
Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan herpes zoster dapat dilakukan melalui vaksinasi. Vaksin ini sangat di anjurkan bagi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas untuk menurunkan risiko penyakit dan mengurangi keparahan gejala. Menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, serta mencukupi waktu istirahat juga berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh.
Pengobatan herpes zoster umumnya melibatkan pemberian obat antivirus. Penanganan ini paling efektif jika dilakukan dalam 72 jam pertama setelah ruam muncul. Selain itu, obat pereda nyeri dan perawatan kulit juga di perlukan untuk membantu mengurangi ketidaknyamanan selama proses penyembuhan.
Baca Juga : Virus Varicella Zoster: Penyebab Cacar Air dan Herpes Zoster
Kesimpulan
Herpes zoster adalah penyakit yang dapat muncul secara tiba-tiba dan menimbulkan nyeri yang signifikan. Penyakit ini berasal dari virus lama yang kembali aktif ketika sistem kekebalan tubuh melemah. Dengan mengenali gejala sejak dini, melakukan pencegahan melalui vaksinasi, serta mendapatkan pengobatan yang tepat, risiko komplikasi dapat ditekan. Kesadaran dan penanganan yang cepat menjadi kunci agar herpes tidak mengganggu kualitas hidup dalam jangka panjang.
