
Indonesia merupakan negara dengan kondisi geologis yang sangat kompleks. Terletak di jalur Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki ratusan gunung berapi aktif maupun tidak aktif yang tersebar di berbagai pulau. Selain menyimpan keindahan alam dan potensi wisata, sejumlah gunung di Indonesia juga dikenal memiliki tingkat risiko tinggi dalam aktivitas pendakian. Di tengah catatan kecelakaan yang berulang, muncul stigma “gunung angker” yang berkembang di masyarakat. Artikel ini membahas gunung-gunung di Indonesia yang dikenal berbahaya dan telah memakan banyak korban, dengan pendekatan faktual, keselamatan, serta perspektif sosial-budaya.
Makna “Gunung Angker”
Istilah “gunung angker” tidak selalu berkaitan dengan hal mistis. Sebutan ini sering muncul akibat kombinasi faktor alam ekstrem, kondisi medan yang sulit, perubahan cuaca mendadak, minimnya jalur evakuasi, serta catatan kecelakaan fatal yang berulang. Dalam banyak kasus, kecelakaan pendaki lebih disebabkan oleh kurangnya persiapan, pelanggaran prosedur keselamatan, dan meremehkan karakter alam pegunungan.
Gunung-Gunung di Indonesia dengan Catatan Korban Tinggi
1. Gunung Semeru (Jawa Timur)

Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Jalur pendakian menuju Mahameru dikenal memiliki tingkat risiko tinggi, terutama di area lereng pasir dan kawah Jonggring Saloko. Banyak korban jatuh akibat hipotermia, kelelahan ekstrem, serta terperosok di medan berpasir curam. Aktivitas vulkanik yang fluktuatif juga menjadi faktor bahaya utama.
2. Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY)

Gunung Merapi dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di dunia. Selain erupsi besar yang telah menelan ribuan korban dari masyarakat sekitar, aktivitas pendakian ilegal saat status waspada juga kerap menyebabkan kematian. Gas beracun, awan panas, serta runtuhan material vulkanik menjadi ancaman nyata yang sering diabaikan.
3. Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat)

Gunung Rinjani memiliki jalur pendakian panjang dengan perubahan cuaca ekstrem. Banyak kecelakaan terjadi akibat pendaki terjatuh di jalur sempit, tersesat, atau mengalami dehidrasi. Danau Segara Anak dan jalur menuju puncak Rinjani sering menjadi lokasi evakuasi sulit yang memakan waktu berhari-hari.
4. Gunung Kerinci (Jambi)

Sebagai gunung tertinggi di Sumatra, Gunung Kerinci memiliki medan hutan lebat, jalur berlumpur, serta cuaca yang sulit diprediksi. Kasus pendaki hilang dan meninggal sering dikaitkan dengan kabut tebal, orientasi medan yang buruk, serta minimnya pengalaman pendaki.
5. Gunung Latimojong (Sulawesi Selatan)

Pegunungan Latimojong dikenal memiliki jalur panjang dan minim penanda. Banyak korban terjadi akibat kelelahan ekstrem, logistik yang tidak memadai, dan tersesat dalam hutan tropis yang rapat. Kondisi ini memperkuat kesan angker di kalangan pendaki.
Faktor Penyebab Tingginya Korban
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kecelakaan di gunung-gunung tersebut antara lain:
- Kurangnya perencanaan dan persiapan pendakian
- Mengabaikan informasi cuaca dan status gunung
- Pendakian di luar jalur resmi
- Minimnya pengetahuan navigasi dan pertolongan pertama
- Overkapasitas pendaki pada musim ramai
Perspektif Keselamatan dan Edukasi
Penting untuk menempatkan gunung bukan sebagai entitas mistis, melainkan sebagai lingkungan alam yang memiliki risiko nyata. Edukasi keselamatan, kepatuhan terhadap aturan pengelola kawasan, serta peningkatan literasi pendakian merupakan langkah krusial untuk menekan angka kecelakaan. Stigma “angker” seharusnya menjadi pengingat akan bahaya alam, bukan sekadar narasi sensasional.
Kesimpulan
Gunung di Indonesia yang dikenal gunung angker pada dasarnya adalah kawasan alam dengan karakter ekstrem dan tingkat risiko tinggi. Banyaknya korban jiwa lebih sering disebabkan oleh faktor manusia dibandingkan unsur supranatural. Dengan pendekatan ilmiah, disiplin keselamatan, dan rasa hormat terhadap alam, pendakian gunung dapat dilakukan secara lebih aman dan bertanggung jawab. Gunung bukanlah tempat untuk ditaklukkan, melainkan ruang alam yang harus dipahami dan dijaga.
BACA JUGA ARTIKEL: Sepatu Gunung Ternyata Penting Banget
