Di era digital, ulasan atau review menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan konsumen. Baik dalam memilih produk, jasa, restoran, maupun layanan online, banyak orang cenderung membaca komentar pengguna terlebih dahulu. Menariknya, satu review negatif sering kali terasa lebih meyakinkan dibandingkan puluhan review positif. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia.
Bias Negativitas dalam Psikologi
Otak manusia memiliki kecenderungan alami yang disebut negativity bias atau bias negativitas. Bias ini membuat manusia lebih peka terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif. Secara evolusioner, hal ini berfungsi sebagai mekanisme bertahan hidup. Pada masa lalu, manusia perlu lebih waspada terhadap ancaman, bahaya, dan risiko demi keselamatan diri. Akibatnya, otak secara otomatis memberi perhatian lebih besar pada hal-hal yang dianggap berpotensi merugikan. Pola ini masih terbawa hingga sekarang, termasuk saat kita membaca ulasan produk atau layanan.
Persepsi Risiko Lebih Kuat
Review negatif biasanya mengandung cerita tentang pengalaman buruk, kerugian, atau kekecewaan. Informasi semacam ini langsung diproses otak sebagai potensi ancaman. Konsumen merasa perlu menghindari risiko yang sama, sehingga review negatif dianggap lebih relevan dan penting. Sebaliknya, review positif sering dianggap sebagai hal yang wajar atau standar. Kepuasan tidak memicu respons emosional sekuat kekecewaan, sehingga dampaknya terasa lebih kecil.
Emosi Negatif Lebih Membekas
Penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa emosi negatif seperti marah, kecewa, dan takut meninggalkan jejak memori yang lebih kuat dibandingkan emosi positif. Ketika membaca pengalaman buruk orang lain, otak secara tidak sadar membayangkan diri berada di situasi tersebut. Hal inilah yang membuat satu review negatif mampu mengalahkan puluhan review positif dalam memengaruhi keputusan.
Ketidakpercayaan terhadap Review Positif
Banyak konsumen juga memandang review positif dengan skeptis. Sebagian menganggap ulasan tersebut palsu, dibayar, atau dilebih-lebihkan. Sebaliknya, review negatif dianggap lebih jujur karena penulisnya tidak mendapatkan keuntungan dari kritik yang diberikan. Pandangan ini memperkuat keyakinan bahwa review negatif lebih dapat dipercaya dibandingkan pujian.
Efek Sosial dan Pengaruh Kelompok
Dalam psikologi sosial, manusia cenderung mengikuti opini mayoritas atau yang terlihat dominan. Ketika satu komentar negatif muncul di tengah banyak komentar positif, perhatian publik justru tertuju pada komentar tersebut. Diskusi sering berkembang di sekitar kritik, sehingga memperkuat persepsi bahwa masalah tersebut penting.
Dampak pada Keputusan Konsumen
Karena faktor-faktor di atas, konsumen sering membatalkan pembelian hanya karena satu atau dua review buruk. Mereka merasa lebih aman menghindari risiko daripada mengambil peluang. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketakutan akan kerugian lebih besar dibandingkan keinginan untuk mendapatkan keuntungan.
Cara Menyikapi Review secara Objektif
- Membaca review secara menyeluruh, bukan hanya yang negatif
- Memperhatikan pola keluhan, bukan kasus tunggal
- Mengecek tanggal review dan relevansinya
- Membandingkan dengan platform lain
- Menilai apakah masalah yang disebutkan sesuai dengan kebutuhan pribadi
Kesimpulan
Otak manusia secara alami lebih memercayai informasi negatif karena faktor evolusi, emosi, dan persepsi risiko. Bias negativitas membuat review buruk terasa lebih penting dan lebih membekas dibandingkan pujian. Namun, sebagai konsumen yang bijak, kita perlu menyikapi ulasan secara objektif dan seimbang agar tidak terjebak pada satu sudut pandang saja.
BACA JUGA ARTIKEL: Review hotel-hotel unik di Yogyakarta yang cocok untuk staycation romantis