
Istilah narsistik semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial. Sayangnya, penggunaan istilah ini kerap tidak disertai pemahaman yang tepat. Banyak orang dengan mudah melabeli seseorang sebagai narsistik tanpa memahami makna psikologisnya secara utuh. Akibatnya, muncul berbagai kesalahan persepsi yang berpotensi menimbulkan stigma dan kesalahpahaman.
1. Menganggap Semua Orang Percaya Diri sebagai Narsistik
Kesalahan paling umum adalah menyamakan sifat percaya diri dengan narsistik. Dalam psikologi, percaya diri merupakan sikap positif terhadap kemampuan diri sendiri yang masih disertai empati dan penghargaan terhadap orang lain. Sebaliknya, narsistik, terutama dalam konteks gangguan kepribadian, ditandai oleh kebutuhan berlebihan akan pengakuan, rasa superioritas, dan kurangnya empati. Dengan demikian, tidak semua orang yang tampil yakin atau berani menonjolkan diri dapat disebut narsistik.
2. Menyamakan Sifat Narsistik dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD)
Banyak orang beranggapan bahwa setiap perilaku ini berarti seseorang mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD). Padahal, sifat narsistik dan NPD adalah dua hal yang berbeda. Sifat ini dapat muncul pada siapa saja dalam situasi tertentu dan tidak selalu bersifat menetap. Sementara itu, NPD merupakan gangguan kepribadian yang ditetapkan melalui kriteria klinis dan diagnosis profesional, serta memengaruhi pola pikir, emosi, dan hubungan sosial secara jangka panjang.
3. Menganggap Orang Narsistik Selalu Percaya Diri dan Bahagia
Pandangan umum lainnya adalah bahwa individu narsistik selalu tampil kuat, percaya diri, dan merasa puas dengan dirinya sendiri. Kenyataannya, di balik citra tersebut sering kali terdapat rasa tidak aman yang mendalam. Banyak individu dengan kecenderungan ini sangat sensitif terhadap kritik dan memiliki harga diri yang rapuh. Mereka membutuhkan validasi eksternal secara terus-menerus untuk mempertahankan citra diri yang dibangun.
4. Menganggap Narsistik Selalu Disengaja dan Jahat
Masyarakat sering menilai perilaku ini sebagai sesuatu yang sengaja dilakukan untuk memanipulasi atau menyakiti orang lain. Walaupun perilaku tersebut memang dapat berdampak negatif, tidak semua individu dengan kecenderungan ini memiliki niat jahat. Dalam banyak kasus, pola perilaku tersebut terbentuk dari pengalaman masa lalu, pola asuh, atau mekanisme pertahanan diri yang tidak disadari.
5. Berpikir Narsistik Tidak Bisa Berubah Sama Sekali
Kesalahan lainnya adalah anggapan bahwa orang dengan sifat ini tidak mungkin berubah. Perubahan memang tidak mudah dan membutuhkan waktu, terutama jika berkaitan dengan pola kepribadian yang sudah lama terbentuk. Namun, melalui kesadaran diri, terapi psikologis, dan dukungan profesional, perubahan tetap memungkinkan, meskipun bertahap.
6. Melabeli Orang Secara Sembarangan sebagai Narsistik
Penggunaan istilah ini secara sembarangan dapat berdampak negatif, baik bagi individu yang dilabeli maupun bagi pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental. Pelabelan tanpa dasar yang jelas berpotensi mengabaikan kompleksitas kepribadian seseorang serta menutup ruang dialog dan empati. Dalam konteks kesehatan mental, penilaian seharusnya dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan pemahaman yang memadai.
Kesimpulan
Kesalahan persepsi tentang narsistik masih banyak beredar di masyarakat dan sering kali diperkuat oleh informasi yang tidak utuh. Memahami perbedaan antara sifat ini, kepercayaan diri, dan gangguan kepribadian seperti NPD sangat penting untuk mengurangi stigma dan meningkatkan literasi kesehatan mental. Dengan pemahaman yang lebih akurat, masyarakat dapat bersikap lebih objektif, empatik, dan bertanggung jawab dalam menggunakan istilah psikologis.
BACA JUGA ARTIKEL: Cara Mencegah Cyberbullying untuk Kesehatan Mental
